Jumat, 25 Mei 2012

FULL MANUFACTURING PLTA INDONESIA

Pada tanggal 23 dan 24 Mei 2012 bertempat di PLN Puslitbang diselenggarakan acara Workshop & Exhibition Reverse Engineering. Reverse engineering adalah program PT PLN untuk penyediaan sparepart peralatan listrik ,khususnya pembangkit, dengan cara mendorong industry dalam negri untuk merekayasa ulang dan memproduksi komponen-komponen pembangkit listrik di dalam negri. Hal tersebut bertujuan agar diperoleh kepastian penyediaan sparepart, kemandirian teknologi nasional, serta untuk mengembangkan industry dan ekonomi Indonesia.
Direktur Utama PLN, Nur Pamudji, dalam sambutan dan pengarahannya menyampaikan policy PT PLN untuk semaksimal mungkin mendorong agar peralatan listrik untuk keperluan PT PLN merupakan produksi dalam negri. Apabila sudah ada industry dalam negri yang telah membuat komponen peralatan listrik tersebut, maka PT PLN akan membelinya dari dalam negri, misalnya disampaikan untuk PLTU berkapasitas sampai 20 MW, semua peralatan turbin, boiler, balance of plant harus dibuat di dalam negri.
Reverse Engineering memang merupakan program PT PLN untuk mengatasi kendala dalam pengoperasian pembangkit listrik PPDE (program percepatan dan diversifikasi energy) atau yang lebih kita kenal sebagai program PLTU 10.000 MW tahap I. Dimana pada tahap operasi pembangkit tersebut sering terjadi kerusakan pembangkit, khususnya balance of plant, sehingga menyebabkan capacity factor (C.F) pembangkit lebih rendah dari yang direncanakan. Dengan demikian pada workshop dan diskusi, serta eksibisi lebih difokuskan reverse engineering PLTU.
Hanya satu instansi yaitu PLN Pusharlis yang menampilkan produk unggulan di luar bidang PLTU, berupa turbin air yang merupakan komponen PLTA.

Manufaktur Komponen PLTA
Dengan semangat untuk memakai peralatan pembangkit dari dalam negri khususnya pembangkit listrik tenaga air, penulis merasa gembira dengan produk pembangkit listrik yang ditampilkan oleh PLN Pusharlis. PLN Pusharlis telah memproduksi turbin Francis dan telah beroperasi , yaitu PLTM Sansarino 1 x 800 kW (beroperasi tahun 2011), PLTM Lokomboro Extension 2 x 600 kW (target operasi 2012), PLTM Lokomboro Cascading (rencana operasi 2012), PLTM Walesi 2 x 600 (target operasi 2012), PLTM Sawidago 1 x 380 kW (target operasi 2012). Suatu hal yang menggembirakan karena pada saat ini di Indonesia untuk turbin air skala  500 kW sampai 5 MW umumnya merupakan produk China
Turbin Francis 600 kW PLN Pusharlis

Dengan kemampuan memproduksi turbin Francis dengan kapasitas 1 MW, penulis yakin PLN Pusharlis memiliki kemampuan dan dapat segera memproduksi turbin air untuk PLTA Skala menengah, yaitu pada kisaran kapasitas 5 sampai 10 MW.
Karena jika kita berbicara tentang produksi komponen pembangkit listrik produksi dalam negri, mestinya untuk PLTA telah dilakukan. Secara teknologi dan secara komersil hal tersebut layak dilakukan. Karena secara prinsip teknologi untuk memproduksi turbin air skala 5 sampai 10 MW tidak jauh berbeda dengan kapasitas 1 MW.
Pada tahun 2009 penulis pernah menghitung berapa besar peluang full manufactur PLTA skala menengah oleh industry dalam negri, ternyata sangat besar. Kondisi tersebut tidak banyak berbeda dengan saat sekarang, sehingga tinggal policy dari pemerintah dan PLN untuk membangun PLTA skala menengah oleh industry dalam negri akan merupakan faktor utama agar seluruh peralatan PLTA sampai skala menengah merupakan produk dalam negri.
Secara umum keyakinan penulis tersebut dapat diuraikan kemampuan industri dalam negri untuk membuat peralatan dan membangun PLTA sebagai berikut :
  1. Pekerjaan sipil, seluruh instalasi PLTA mulai dari bendungan, terowongan, power house, intake, spillway, tailrace, surge tank, telah dapat dilaksanakan oleh kontraktor dalam negri.
  2. Pekerjaan metal work, berupa pipa pesat dan pintu air, telah mampu dilaksanakan secara keseluruhan.
  3. Turbin, saat ini PLN Pusharlis telah membuat turbin Francis dengan kapasitas 800 kW. Pada dasarnya tidak ada perbedaan atau kesulitan untuk membuat turbin dengan kapasitas sampai 5 atau 10 kW, bahkan untuk turbin Francis, secara teknis akan lebih mudah untuk melakukan manufaktur turbin Francis sampai kapasitas 5 atau 10 MW. Untuk kapasitas lebih besar akan diperlukan mesin-mesin yang lebih besar, namun mesin-mesin tersebut cukup tersedia di dalam negri.
  4. Generator, industri generator indonesia telah mampu untuk memproduksi generator dengan kapasitas sampai 5 atau 10 MW. Namun untuk generator PLTA yang putarannya berkisar dari 500, 600 , 750 atau 1000 rpm harus dipesan secara khusus, namun kalau unitnya cukup banyak maka harganya akan kompetitif.
  5. Transformer, telah diproduksi di dalam negri sampai kapasitas 60 MWA.
  6. Sistem kontrol , dapat di desain di dalam negri, meskipun sebagian komponen hardwarenya berupa produk impor, namun nilai tambahnya adalah pada penciptaan sistem kontrol tersebut.
Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa industri dalam negri di Indonesia telah mampu untuk melakukan full manufakturing PLTA skala menengah, dengan kapasitas sampai 20 bahkan 50 Mega Watt. Semoga dengan semangat memberdayakan industri dalam negri dan memajukan ekonomi Indonesia hal tersebut dapat diwujutkan.
-------------
Jakarta, 25 Mei 2012
Tulisan Terkait Lain :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar