Jumat, 15 November 2013

PLTA TANGKA - MANIPI DI SINJAI, SULAWESI SELATAN



Antara tanggal 11 sampai 13 Nopember 2013 saya mengikuti undangan dari PLN Udiklat Makassar sebaggai salah satu narasumber untuk review dan revisi materi diklat pengoperasian dan pemeliharaan PLTMH dan Diklat Basic Design PLTMH.
Pada kesempatan tersebut hadir saya dari PLN Puslitbang, Pak Budi Setianto dari Divisi Energi Baru dan Terbarukan (EBT) Kantor Pusat, Pak Muchsin dari Pusdiklat dan Pak Kurnia dari Pusharlis. Sedangkan dari Udiklat Makassar Pak Ramli dan Pak Agung Bayu. Kami mendapat tugas untuk membahas dan mengevaluasi materi diklat yang telah disusun pada bulan April sampai Mei 2013, dan telah dilaksanakan pelatihannya pada bulan Mei dan Juni 2013. Dengan telah dilakukannya pelatihan, maka evaluasi dimaksudkan untuk menyempurnakan materinya sehingga lebih efektif dan tepat sasaran untuk memberikan kompetensi sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
Hal tersebut sejalan dengan Visi Misi PLN Pusdiklat yang sekarang juga merupakan Corporate University PT PLN, dimana PLN Udiklat Makassar sebagai bagian dari Corporate University PT PLN telah ditunjuk sebagai Renewable Energi Academy, yang tugasnya mengembangkan dan menyelenggarakan diklat dan pembelajaran bidang pembangkit listrik  berasal dari energi baru dan terbarukan. Salah satu diklat energi baru dan terbarukan yang dikembangkan oleh Udiklat Makassar adalah diklat PLTMH, baik sisi operasi dan pemeliharaan, basic design, serta studi kelayakannya.
PLN Udiklat Makassar


Untuk memperkaya wawasan kami dalam pelaksanaan review materi, maka pada hari kedua diskusi dan pembahasan, yaitu pada Selasa 12 Nopember 2013 kami melakukan kunjungan ke PLTA Tangka - Manipi yang dimiliki oleh Swasta, yaitu PT Sulawesi Mini Hidro Power yang terletak di desa Manippi Kecamatan Sinjai Barat Kabupaten Sinjai. PLTM (atau juga bisa disebut PLTM karena kapasitas totalnya 10 Mega Watt yang merupakan batas antara sebutan PLTM dan PLTA) merupakan perusahaan IPP penanaman modal asing dari Norwegia dan resmi beroperasi mulai beroperasi pada tanggal 18 Januari 2011 atau hampir tiga tahun yang lalu. 
Perjalanan kami mulai pukul 8.30 pagi dari PLN Udiklat Makassar di Mawang menuju arah Malino, perjalanan melewati tepian waduk Bili-Bili dan semakin menanjak ke arah Malino. Semakin mendekati Malino kontur jalan semakin menanjak menyususuri punggung bukit dan berkelok-kelok. Udara pun semakin sejuk dan dingin, nun jauh di arah kanan terlihat gunung Bawakaraeng yang tertutup kabut. Pada jam 10.30 sampailah kami di Malino, suatu kota kecil yang merupakan daerah wisata yang konon dibangun oleh Belanda sebagi tempat rekreasi. Udaranya cukup sejuk dan mungkin dapat disamakan dengan puncak. Saat kami sampai di Malino suasananya tidak ramai, juga tidak banyak wisatawan yang sedang berkunjung. Karena memang pada hari selasa yang merupakan hari kerja. Lain halnya pada saat akhir pekan atau saat libur sekolah suasananya akan lebih ramai.
Di tengah kota Malino pada daerah yang disebut kebun Pinus kami singgah dan minum kopi dan teh sejenak. Di sepanjang jalan di sekitar tempat tersebut banyak warung-warung yang menjual makanan, bukan hanya minuman, tetapi juga lengkap dengan warung nasi, coto, konro dan berbagai makanan lainnya. Memang lokasi tersebut cukup sejuk dan menjadi favorit para wisatawan.
Setelah beristirahat dan minum teh dan kopi hangat, kamipun melanjutkan perjalanan kea rah barat mengikuti jalan poros Malino – Sinjai. Perjalanan masih berkelok-kelok, namun kali ini menurun karena kota Sinjai sendiri terletak dipantai Barat. Perjalanan tersebut masih memerlukan waktu selama 1,5 jam, maka sampailah kami di Kecamatan Sinjai Barat yang merupakan lokasi PLTA Tangka – Manipi. Dari Manipi, kami keluar dari jalan poros kea rah kiri menuju lokasi PLTA. Jalan menuju lokasi tersebut sangat curam, belokan tajam, menurun dan sebagian rusak dan berlumpur sehingga cukup menegangkan menempuh jarak yang hanya sekitar 3 km tersebut. 
Power House

Akhirnya sampailah kami di lokasi Power House PLTA Tangka - Manipi terletak di desa Tasiliu Kecamatan Sinjai Barat. PLTA tersebut memiliki kapasitas total sebesar 10 MW dan terdiri dari 2 buah turbin dengan kapasitas masing-masingnya 6,5 MW  dan 3,5 MW. Putaran masing-masing turbin adalah 750 dan 1000 rpm.
Turbin Generator 3,5 MW

Head PLTA tersebut adalah  186 meter, sedangkan debitnya sekitar debit 4,5 m3/detik. Untuk mendapatkan head yang tinggi tersebut air dari intake dialirkan lewat non pressure tunnel sepanjang sekitar 1.700 meter dengan diameter bervariasi mulai 2,0 m , 1,9 m dan 1,8 m.  Selanjutnya diturunkan melalui pipa pesat sepanjang 300 meter dengan diameter 1,8 m. Baik saluran air (non pressure tunnel) dan pipa pesat konstruksinya merupakan pipa yang tertimbun tanah sehingga tidak dapat dilihat. 
Turbin Generator 6,5 MW

Menurut informasi yang diberikan Pak Iwan yang bertindak mewakili PT Sulawesi Mini Hidro Power, dengan pemilihan saluran low pressure berupa pipa, meskipun harganya lebih mahal dari open-channel, maka terhindar dari bahaya longsor. Karena lokasinya yang sangat curam dan di punggung atau lereng, kalau berupa saluran terbuka dapat saja tersumbat oleh adanya tanah yang longsor dan merusak saluran. Satu hal yang dapt dijadikan pelajaran karena sering dalam pembangunan PLTM dipaksakan untuk membangun saluran terbuka, padahal saluran tersebut melalui sisi lerang yang sangat rawan lonsor. Akibatnya maksud untuk menghemat tersebut berakibat fatal, terjadi longsor dan akhirnya juga terpaksa diganti dengan pipa
Generator mempunyai tegangan 6,6 kV, dan selanjutnya dinaikkan tegangannya oleh Main Transformer menjadi 20 kV dan terhubung dengan system 20 kV menuju Sinjai. Yang menarik seluruh pengoperasian PLTA tersebut dilakukan hanya oleh satu panel control dan dengan system touch screen. Dengan system tersebut seluruh pengoperasian pembangkit dapat dilakukan oleh satu orang. Dimulai dari melakukan konfirmasi untuk siap operasi ke Pusat Pengatur Beban. Selanjutnya operator hanya menekan tombol atau layar untuk operasi, serta konfirmasi operasi. Langkah lainnya telah diatur oleh computer yang melakukan sekuen atau step pengoperasian. Mulai dari mengecek kondisi air, membuka main inlet valve, membuka guide vane, running, eksitasi, sinkron ke transmisi, naik beban dan operasi. Komputer juga akan melakukan sekuen stop operasi kalau terjadi gangguan, atau operator menekan layar untuk stop operasi. Jadi benar-benar seperti pesawat terbang yang bisa beroperasi secara auto pilot.
Layar Operasi Touch Screen

Pemantauan muka air dilakukan secara manual pada lokasi weir / intake sebanyak 4 kali dalam sehari, yaitu pukul 07.00 , 11.30, 16,30 18.00 dan 21.00. Sedangkan laporan operasi juga empat kali setiap hari yaitu pada pukul 06.00, 13.00, 19.30 dan 24.00. Laporan tersebut langsung dioleh oleh computer dabn dilaporkan ke Makassar, Jakarta dan Norwegia. Sedangkan pemeliharaan tahunan selalu dilakukan tepat waktu selama 2 minggu. Dalam pemeliharaan tahunan tersebut air di saluran dikeringkan dan dilakukan inspeksi sepanjang saluran. Pada saat tersebut dilakukan pemeliharaan pipa sehingga kondisinya kembali prima.  Demikian juga halnya pada turbin, generator, transformer dan transmisi.
Dengan mutu instalasi yang baik serta pemeliharaan yang disiplin tersebut tidak heran, PLTA tersebut dapat beroperasi secara sempurna dan mampu memenuhi target produksi selama 2 tahun berturut-turut. Bahkan pada tahun ketiga ini mereka optimis produksi listrik akan melampaui target yang telah ditetapkan pada dukumen PPA (Power Purchase Agreement).
Lingkungan sekitar pembangkit juga terjaga dengan dilakukannya penghijauan di sekitar lokasi bangunan pembangkit. Terlihat deretan pohon-pohon jati putih yang berumur sekitar 2 tahun. Jadi selain berfungsi sebagai penghijauan di sekitar instalasi, penanaman jati putih tersebut juga memiliki nilai ekonomi. Karena jenis jati tersebut merupakan jenis yang cepat tumbuh besar menghasilkan kayu. Dalam waktu 7 atau 8 tahun dapat dipanen memberi pemasukan kepada perusahaan.
 
Jati putih di sekitar Tailrace

Tanpa terasa kami sudah 2 jam berada di lokasi PLTA Tangka Manipi. Tiba saatnya untuk mohon diri dan kembali ke Mawang. Terima kasih kepada Pak Iwan dan Pak Ashar yang telah menerima kami dengan baik. Memberi informasi yang sangat berguna untuk pengembangan diklat Minihidro. Dan tak ketinggalan kami juga disuguhi makan siang yang lezat. Sekali lagi terima kasih. Sampai jumpa lagi.

Jakarta, 15 Nopember 2013
-----------------------------
Tulisan Terkait Lain :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar